Selasa, 27 September 2011

Pengertian Budaya dan Sosial Secara Harfiah dan Istilah

PENGERTIAN BUDAYA Secara harfiah kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Budaya dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Budaya juga berasal dari kata budi-daya yang berarti daya dari budi. Jadi, kata budaya atau daya dari budi itu berarti cipta, karsa, dan rasa.

Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang (menurutSoerjanto Poespowardojo 1993).

Sosial secara Istilah berasal dari bahasa Latin yaitu “socium” artinya pergaulan hidup manusia dalam satu kenyataan, dalam bahasa Indonesia disebut “masyarakat”. Kemudian diambil alih menjadi bahasa Inggris dan diberi akhiran “al” menjadi “social” (kata sifat) artinya hal ihwal pergaulan hidup manusia dalam satu kenyataan atau hal ihwal kemasyarakatan.
Budaya secara Istilah berasal dari bahasa sansakerta, jamak dari “budh” artinya alam pikiran. Istilah budaya yang berasal dari bahasa sansakerta, mengandung bentuk kesadaran Hindu dan Budha, yang bersumber kepada buku Wedha dan Mahabarata. Dalam buku Wedha digambarkan bahwa ujud alam ini berasal dari Parjabat yang ingin memperbanyak diri sehingga dicincang-cincang oleh dewa yang lain. Bagian kepalanya menjadi matahari dan bagian tubuhnya yang lain menjadi satelit-satelitnya. Dalam masalah sosial bahagian dari kepalanya menjadi manusia golongan Brahmana, dianggap sebagai wakil dewa, bahagian tangannya menjadi golongan ksatrya, dari pahanya menjadi golongan weisya dan sudra, sedangkan dari kakinya menjadi golongan paria sebagai golongan yang paling hina. Demikianlah sosial budaya menurut Wedha.

Secara istilah, banyak pengertian tentang budaya diantaranya : 1. budaya adalah cara berfikir dan cara merasa yang menyatakan diri dalam keseluruhan segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan waktu. 2. Aspek ekspresi simbolik prilaku manusia atau makna bersama yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari sehingga menjadi konsesus dan karenanya mengabaikan konflik. 3. Kondisi kehidupan biasa yang melebihi dari yang diperlukan.(Ibnu Chaldun) 4. Bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat, struktur intuitif yang mengandung nilai-nilai rahaniah tinggi yang menggerakkan masyarakat atau hasanah historis yang terefleksikan dalam nilai yang menggariskan bagi kehidupan suatu tujuan ideal dan makna rahaniyah yang jauh dari kontradiksi ruang dan waktu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar